Loading...
Loading...

Kawan-kawan Social Hacker Team, menulis itu soal rasa. Bukan cuma soal data. Untuk menangkap ruh para pejuang sungai kita, cerita harus dimulai dari kegelapan. Gambarkan Kapuas yang lagi sesak napas. Tuliskan soal merkuri, lumpur sedimentasi, hingga banjir yang tak kunjung usai. Kita butuh fondasi masalah yang kuat. Biar pembaca tahu bahwa "normal" bagi warga saat ini adalah menyerah. Tanpa kegelapan yang pekat, cahaya kecil yang dibawa oleh si Hacker Sosial tidak akan pernah terlihat berkilau.
Baru setelah itu, masukkan si tokoh. Dia ini "penyimpang" yang positif. Saat semua orang pasrah, dia justru punya cara lain. Dia meretas keadaan dengan cara yang tidak lazim. Ini bagian paling seru: proses "ngeretas" kebuntuan itu. Jangan cuma tulis hasilnya, tuliskan juga keringatnya. Tuliskan bagaimana dia diejek atau dianggap gila oleh tetangganya sendiri. Kita ingin tahu bagaimana cara kerja otaknya yang aneh tapi cerdas itu dalam menghadapi krisis di Kapuas Hulu, Sintang, atau Sanggau.
Terakhir, urusan hasil dan mimpi. Tidak perlu hasil yang muluk-muluk setinggi langit. Air kolam yang mulai jernih atau ikan yang kembali bertelur saja sudah sangat sakti. Itu atap ceritanya. Tapi, jendela aslinya adalah alasannya: kenapa dia mau susah-susah melakukan itu semua? Biasanya urusan martabat. Urusan cinta pada anak-cucu. Tutup tulisan dengan sebuah harapan. Biar pembaca pulang dengan satu pertanyaan yang menancap di kepala: kalau orang di tepian Kapuas saja bisa bergerak, kenapa kita cuma diam dan mengeluh? Begitulah.
No transcript available for this episode.